Archive for August, 2009

Kisah Nomaden di abad modern.

Nomaden atau  pengembara, adalah kelompok atau orang  yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain di padang pasir atau daerah bermusim dingin, daripada menetap di suatu tempat.   Sementara itu Orang atau kelompok orang  yang berpindah-pindah tempat tetapi bukan di padang pasir atau daerah bermusim dingin, disebut sebagai kaum gipsi.

Banyak kebudayaan  pada dahulunya secara tradisional hidup nomaden atau gipsi.    Akan tetapi kebiasaan tradisional nomaden dan atau gipsi tersebut semakin lama semakin berkurang dan menghilang , terutama  di negara-negara yang telah mengalami kemajuan teknologi dan industrialisasi.

Akan tetapi, dari apa yang saya alami selama lebih dari 60 tahun, maka sebenarnya perjalanan saya berpindah-pindah tempat sebanyak 20 kali sudah mirip dengan apa yang dijalani oleh masyarakat nomaden pra era industri.

Sepanjang ingatan saya, rumah yang pertama kali saya tempati adalah di Jalan Segara IV no 4. (1)  Jalan Segara sekarang ini namanya adalah jalan Veteran.   Jalan Veteran IV  itu pun, saat ini sudah tidak ada lagi, bermula dengan dibangunnya Masjid Baiturrachim oleh Bung Karno di tahun 1950 an.   Sebenarnya, lokasi itu adalah berupa lapangan tenis di halaman Istana.   Saat itu saya bersekolah TK dihalaman Istana dan di Sekolah Rakyat Negeri  47 , sekarang SD namanya di Jalan Petojo Jaga Monyet, sekitar 4 atau 5 kilometer jaraknya dari jalan Segara IV.
Read more…

Menyedihkan ! Beberapa Menteri sudah tidak mau lagi dipanggil JK.

“Ah, itu sifat manusia,” ucapnya santai sambil tersenyum dan disambut tawa para wartawan.   Itulah jawaban enteng dari JK ketika ditanyakan mengenai perbedaan sikap para menteri sebelum dan sesudah pilpres yang bertolak belakang.

Selepas pemilu presiden, kegiatan kunjungan kerja Wakil Presiden Jusuf Kalla ke sejumlah daerah tidak pernah lagi didampingi oleh menteri. Kekalahan Kalla dalam pilpres lalu ternyata menyebabkan dirinya lambat laun ‘ditinggalkan’ oleh koleganya di pemerintahan.

Seusai kekalahan dirinya dalam pilpres 9 Juli 2009 lalu, kunjungan kerja Kalla tidak pernah lagi didampingi menteri.   Tercatat, sekitar akhir Juli lalu, Kalla meninjau pembangunan PLTU Labuan di Banten tanpa didampingi menteri.Selain itu, kunjungan kerja Kalla ke Bandara Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara kemarin juga tidak didampingi oleh seorangpun menteri.
Read more…

Menulis versus Kompetensi.

Kompetensi dapat diidentifikasikan sebagai keterampilan, pengetahuan dan karakteristik atau perilaku yang dituntut, agar seseorang dapat menampilkan performa yang maksimal. Singkatnya, adalah bidang yang dikuasai atau digeluti oleh seseorang.

Nah, bagaimana hubungannya dengan kemampuan seseorang dalam menulis?

Sangat sering kita mendengar dari beberapa orang tentang nasihatnya yang berbunyi : menulislah sesuatu yang merupakan kompetensi anda saja. karena tulisan anda tentang sesuatu (diluar kompetensi anda) itu pasti akan menjadi lebih jelek dibanding apabila topik yang sama ditulis oleh orang yang berkompeten dalam bidang tersebut.

Nasihat yang seperti ini, sebenarnya nasihat yang sama sekali tidak berdasar, walaupun tidak juga sepenuhnya salah, namun yang pasti sangat “menyesat” kan. Satu pemahaman yang sangat “jadul”, ketinggalan jaman. Sangat “berbahaya” untuk diikuti.
Read more…

Artikel Media – Keistimewaan si Induk Bertenaga Nuklir

Hasil Scan Artikel saya yang di muat di harian Media Indonesia

media-indonesia-hal-71

Who wants to be a millionaire ?

Millionaire

Millionaire

Lebih jauh tentang cerita si Aboen, maka sebenarnya orang Indonesia itu selain “penakut” juga cenderung bersikap “hemat” untuk menghindari penggunaan kata “pelit”.   Apabila kita pernah mengikuti acaranya Tantowi Yahya dalam Who wants to be a millionaire, maka kita dapat menyaksikan perbedaan menyolok dari para petarung Indonesia dengan para petarung di China, untuk acara yang sama.

Pada acara tersebut, selalu saja, bila ada seseorang yang sudah mengantongi kemenangan yang cukup besar, dan juga sudah  menggunakan sesi phone a friend, ask the audience dan 50 – 50/fifty fifty, kemudian berhadapan dengan pertanyaan yang tidak dapat dijawab, pasti mereka akan segera mengundurkan diri.   Sayang, soalnya udah menang dan lumayan, ngapain “gambling” lagi?   Angguran pulang aja bawa duit kemenangan, dari pada rugi !   Kapan menangnya?

Takut? jelas takut untuk maju lagi, karena kemenangan yang sudah diraih bisa hilang.   Rugi?  wah ini yang sangat sulit untuk dapat dipahami.   Kan, datangnya hanya modal “dengkul”, koq bisa sampai kepada kesimpulan akan “rugi”.   Tidak bermodal koq bisa rugi?   Jadi dalam benak pikirannya, uang hadiah yang sudah dikantongi sementara itu sudah dianggap punya dia.   Jadi harus di “hemat” dong, jangan dipake untuk “gambling” !   Ini dia, bukan uangnya sendiri aja udah di hemat ( “pelit”), apa lagi punya sendiri/bawa sendiri?

Itulah sebabnya, maka belum ada seorang pun yang memenangkan hadiah  kuiz 1 miliar ini.    Lebih tegas lagi, Tantowi Yahya bahkan mengatakan, tidak akan ada yang pernah ,menang di Indonesia ini, karena ya itu tadi, berkait dengan sikap para petarung yang “takut kalah” ,sangat hemat alias “pelit”.

Sangat berbeda yang dialami acara ini di China.   Orang China, memang terkenal sebagai “jago taruhan”.   Mungkin “gambling” adalah sudah mendarah daging dalam pola pikir nya.   Di China, acara ini sudah ada yang meraih kemenangan, mungkin lebih dari satu orang ?

Mengapa?  Karena orang China, walalupun sudah sampai kepada kesempatan terakhir, setelah mengantongi hadiah yang cukup besar, tetap saja akan berani maju untuk menjawab pertanyaan berikutnya, walaupun dia tidak tahu jawabannya.   Dia akan “gambling” ,walaupun juga tahu bahwa kalau salah, hadiah yang sudah ditangan akan hilang.   Itu tadi, mereka berprinsip, datangnya kan modal dengkul, kenapa nggak berani bertaruh untuk sesuatu yang lebih besar lagi?   Siapa tahu menang?   Kalau menang, pulang bawa 1 miliar, kalau kalah… ya kan waktu datang juga nggak bawa apa-apa/bermodal?   Ini juga perbedaan yang sangat menyolok dari teman kita orang China dalam menjalani hidup ini.   Sekali lagi “berani”, seperti si A Boen !

Kiranya, acara Who wants to be a millionaire, bisa menjadi parameter dalam melihat masalah ini.

Itulah sekedar tambahan tanggapan buat si A Boen , Bud!    Siapa Takut? atau Siapa Berani?