Pada satu kesempatan dalam perjalanan terbang menuju satu tujuan penerbangan domestik, saya sempat singgah disatu bandara untuk transit. Penerbangnya, seorang anak muda dengan penampilan yang gagah. Mengenakan seragam Pilot lengkap dengan tanda pangkat empat garis emas di pundaknya, yang menunjukkan bahwa ia adalah Captain Pilot dari pesawat penumpang besar dan baru, milik salah satu maskapai penerbangan dalam negeri. Secara kebetulan, karena saya mengenalnya dengan baik, kami berjalan beriringan menuju terminal, sambil ngobrol tentang antara lain kebanggaannya telah menjadi Captain Pilot dari pesawat dengan kapasitas penumpang yang lebih dari 200 orang tersebut. Dalam perjalanan sejenak kemudian terdengar dering Handphone nya, yang ternyata datang dari isterinya. Terdengar, bahwa isterinya mengabarkan bahwa anaknya sakit, panas yang tinggi. Kemudian terdengar instruksinya ,agar segera membawa anaknya kerumah sakit, namun dengan catatan, jangan ke Rumah Sakit besar, tetapi cukup ke Puskesmas saja.
Read more…
Archive for November, 2007
Dikotomi, Cape Deh
Pada 1997, saya sebagai Gubernur Akademi Angkatan Udara di Yogyakarta menjadi tuan rumah kunjungan resmi Kepala Staf Angkatan Udara Pakistan, seorang jenderal berbintang empat. Dalam pembicaraan yang santai pada jamuan makan malam itu dia bercerita bahwa ini adalah kunjungan terakhirnya keluar negeri sebagai kepala staf angkatan udara. Dia akan segera melepas jabatannya sepulang dari Indonesia, walaupun dia secara aturan masih memiliki waktu dua tahun lagi memasuki usia pensiun.
Waktu saya tanyakan mengapa, jawabannya adalah dia sudah siap untuk pensiun dan Angkatan Udara Pakistan telah memiliki beberapa perwira tinggi yang juga sudah siap untuk menduduki jabatan kepala staf angkatan udara. Dia mengatakan bahwa kita harus menjaga angkatan udara untuk tetap dan selalu dipimpin oleh mereka yang muda, “Keep the Air Force Young”. Terasa norma “karakter” yang kuat dari Jenderal ini dan juga nuansa “tahu diri” yang kental serta “kebanggaan korps” yang menggebu-gebu untuk mengundurkan diri dengan ikhlas karena telah melihat adik-adiknya yang sudah siap untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan yang akan segera berkiprah untuk menjadi Angkatan Udara Pakistan menjadi lebih baik. Dalam kata yang singkat, ada “wisdom” dalam diri Jenderal ini.

Selain gaya bertutur yang lugas dan human, juga karena tidak banyak orang militer yang aktif menulis sehingga apa-apa yang ditulisnya menjadi menarik. Saya jengah, seorang militer profesional, bahkan sampai jabatan tertinggi sebagai KSAU dengan pangkat marsekal, masih bisa menjadi kolumnis sekaligus penulis buku, tentu bukan sosok yang tidak baen-baen