Refleksi Akhir Tahun
Sebentar lagi tahun 2006 akan segera berlalu. Negara Kesatuan Republik Indonesia segera akan berhadapan dengan masalah-masalah di tahun 2007 , yang antara lain berupa masalah lanjutan dari yang dihadapinya pada tahun ini.
Tahun 2006 yang akan segera dilewati, mencatat banyak permasalahan yang masih menuntut banyak perhatian kita bersama untuk dapat di tanggulangi dengan baik.
Indikator perekonomian nasional, untuk sementara tidak lah begitu mengkhawatirkan. Harga saham di pasar bursa berada pada tingkat yang cukup baik. Demikian pula nilai rupiah terhadap US Dollar, walaupun sempat terganggu sebentar oleh kebijakan ekonomi di Thailand, satu dua hari belakangan ini justru telah memperlihatkan kecenderungan yang menguat. Sayang nya, akhir tahun 2006 telah ditandai dengan naik nya harga beras di banyak tempat di Indonesia serta terulang nya kembali pemandangan lebih kurang empat puluh tahun yang lalu, antrian orang yang memerlukan minyak tanah. Harga minyak tanah yang telah melambung naik, disertai pula dengan menghilangnya kebutuhan rakyat banyak tersebut dari pasar. Pertamina dipertanyakan orang, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Demikian pula masih terbatas nya peluang kerja dan seret nya arus investasi dari luar negeri masih akan menjadi tantangan di tahun depan,
Disisi lain, luapan dari semburan Lumpur di Sidoardjo, masih belum dapat diatasi dan bahkan mengancam banyak wilayah lainnya yang hingga kini belum dapat diantisipasi kapan akan berakhir. Usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah, pemerintah pusat serta pihak Lapindo Brantas selama ini ternyata belum menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Masih banyak penduduk disekitar tempat kejadian yang belum tertangani dengan baik. Kerugian besar yang diderita wilayah Jawa Timur cukup mengganggu perkembangan pembangunan daerah. Hal ini berkait dengan rusak nya jalan Tol serta terancam nya jalur Rel kereta api diwilayah tersebut dari luapan yang berasal dari semburan Lumpur Sidordjo.
Menghadapi musim hujan di akhir tahun, Gunung Merapi telah pula menjadi ancaman bagi penduduk disekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tumpukan lahar dingin yang selama ini sudah membeku ditempat nya, telah menjadi semacam Lumpur pula yang mengalir kebeberapa daerah penduduk dan daerah pertanian disekitarnya.
Aceh, yang dua tahun lalu dilanda Tsunami dengan menelan korban ratusan ribu nyawa, sekarang ini tengah dikepung banjir. Tercatat lebih kurang 70.000 orang mengungsi. Di Langkat, 17.000 orang terpaksa meninggalkan rumah. Enam kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam, akhir minggu ini dilanda banjir serta tanah longsor. Laporan sementara menyebutkan sedikitnya delapan orang tewas, dua orang hilang dan lebih dari 65.000 warga mengungsi meninggalkan tempat tinggal nya. Banjir ini juga telah menyebabkan hubungan darat dari Banda Aceh ke Medan, Sumatera Utara menjadi Lumpuh.
Propinsi Aceh, yang baru saja selesai melaksanakan Pilkada dengan sukses, masih juga menyisakan beberapa masalah, karena ternyata Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang terpilih adalah calon dari GAM, Gerakan Aceh Merdeka. Kekhawatiran yang muncul adalah mengenai kemungkinan Aceh akan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah kekhawatiran ini merupakan kekhawatiran yang berlebihan? Rasa nya orang banyak masih memperlihatkan sikap yang kurang mempercayai iktikad baik dari pihak GAM.
Pernyataan dari GAM yang menyatakan tidak mau membubarkan diri, telah menjadi tambahan kecurigaan orang terhadap kejujuran yang dituntut terhadap MOU yang telah disepakati bersama. Banyak pihak masih mempertanyakan proses perdamaian yang terjadi, seiring dengan kejanggalan-kejanggalan dalam proses perdamaian tersebut. Harapan kita semua tentunya adalah agar siapapun yang akan menjadi Gubernur di Aceh, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tetap utuh. Sebuah negara Islam dengan penduduk yang sangat fanatik, berlokasi di Selat Malaka, rasa nya akan sangat janggal, bila dibandingkan dengan keberadaan propinsi Aceh yang menjadi bagian integral Republik Indonesia. Selama tidak ada negara lain, terutama negara-negara maju yang mendukung upaya merdeka nya Aceh, dapat dipastikan tidak akan ada negara Aceh Merdeka. Bahwa pada kenyataannya pimpinan daerah dari Gubernur dan jajaran dibawahnya akan diisi sebagian besar oleh pihak GAM, tidaklah perlu terlalu dikhawatirkan. Yang sangat perlu diwaspadai adalah, bila ada satu atau beberapa negara lain yang mendukung bahkan mendorong rakyat Aceh untuk merdeka. Pengalaman Timor Timur yang lepas dari Republik Indonesia, selain memang adanya kesalahan dari pihak Indonesia sendiri, yang menjadi faktor utama justru karena ada beberapa negara yang mendukung dan bahkan mendorong untuk merdeka nya Timor timur.
Disamping isu menarik yang tidak henti dipergunjingkan orang yaitu kasus video porno anggota DPR dan masalah Poligami, maka soal bahaya separatisme berkait dengan disintegraasi bangsa tetap menjadi topik yang menonjol.
Bahaya separatisme dan ancaman disintegrasi bangsa yang harus diwaspadai adalah Papua. Kondisi Papua, yang tidak pernah berhenti dari gejolak separatisme, tidak dapat dilepaskan dari potensi yang dimiliki oleh Papua itu sendiri. Potensi kekayaan alam nya tidak perlu dipertanyakan lagi. Keberadaan PT Freeport, yang selalu mengundang perdebatan tidak kunjung usai masih tetap berlangsung hingga kini. Tambang emas tersebut terletak di lokasi yang paling primitif di dunia. Sejauh ini telah menjadi ajang eksplorasi dengan peralatan pertambangan yang paling canggih yang dapat dihasilkan oleh manusia.
Tidak mengherankan, karena tambang emas di Timika adalah merupakan salah satu penghasil emas terbesar di permukaan bumi ini. Belum lagi kekayaan alam lainnya yang terdapat di Papua, yang masih belum terjamah tangan manusia, masih banyak tersebar di beberapa tempat. Kesemuannya itu telah menjadikan Papua, suatu tempat yang menarik bagi negara-negara lain. Sengketa yang tidak pernah selesai antara penduduk setempat dengan pemerintah daerah dan lebih-lebih pemerintah pusat, tidak mustahil akan selalu menjadi celah yang di intip oleh negara-negara lain . Papua sangat atraktif, banyak negara lain berkepentingan untuk dapat memanfaatkannya. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Papua yang menjadi bagian didalamnya memang selalu didukung banyak negara. Akan tetapi kita harus tetap waspada terhadap hal ini.
Kita sendirilah yang harus menjaga dengan upaya sangat serius agar semua permasalahan yang ada di Papua untuk dapat diselesaikan dengan baik. Dapat diselesaikan tanpa muncul nya masalah tersebut di panggung internasional. Sebab apabila tidak, maka dapat dipastikan akan banyak sekali negara-negara lain yang akan berusaha menjadi dewa penyelamat, akan tetapi terselubung di baliknya maksud-maksud tertentu yang akan merugikan Indonesia sebagai negara kesatuan yang utuh. Bahaya separatisme dan disintegrasi bangsa, jauh lebih harus di antisipasi di Papua dari pada di Aceh. Kita percaya, pemerintah telah dengan sangat arif mewaspadai akan hal ini. Itulah semua garis besar gambaran permasalahan yang dihadapi pada tahun ini.
Memasuki tahun 2007, marilah kita berdoa bersama agar semua persoalan bangsa dapat diselesaikan dengan baik. Bencana alam, masalah ekonomi, bahaya separatisme dan disintegrasi bangsa, telah menjadi topik yang menonjol di sepanjang tahun 2006. Mudah-mudahan di tahun 2007 kita dapat menjadi lebih baik lagi. Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2007 !


Hibah F-16 dan Sistem Pertahanan Negara















